Wisata Pikiran untuk Wisata Bireuen


Oleh: Muhammad Arief Ibrahim*


Duta wisata, sebutan yang sangat akrab disebagian kalangan masyarakat, sepasang anak muda yang terpilih menjadi ikon kebudayaan dan pariwisata setelah melewati berbagai macam rangkain acara seleksi, yang menghabiskan biaya tak sedikit, pun standar penilaian yang juga tidak rendah. Duta wisata bukan hanya sekedar ikon saja, namun di era melenial ini, kecantikan saja tidaklah cukup. Anak muda yang terpilih dan mengemban tugas sebagai duta wisata adalah contoh, mempu menginspirasi dan menggugah kesadaran masyarakat untuk kehadiran pariwisata, dan mampu mengangkat potensi wisata suatu daerah. 

Bireuen misalnya, selain pernah menjadi ibu kota Indonesia selama satu minggu. Bireuen, sangat terkenal akan potensi wisata kulinernya, diantaranya adalah mie kocok, yang dapat kita jumpai di Geurugok (Gandapura), Rujak Manis dan Bakso Gatok (Kuta Blang), Sate matang (Peusangan), Bu Sie Itek dan Nagasari (Kota Juang). Para wisatawan yang berkunjung ke Bireuen, sudah seharusnya menjadi bagian dalam perjalannya untuk menikmati wisata kuliner yang ada di Kabupaten Bireuen ini.

Baiklah, mari kita wisata pikiran sejenak. Di sini kita akan membuat suatu masalah mendasar, pertanyaan yang fundamen. Apa yang menjadi ciri khas Bireuen, dan dapat dibawa pulang oleh wisatawan, selain kuliner yang cepat basi jika menempuh perjalanan yang sangat jauh?

Adee kak Nah, ketika mendengar kata-kata tersebut, otak kita langsung memproses data yang tersimpan, bahwa ketika kita sampai di Mereudu ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, belum lengkap bila tak sempat mencicipi Adee Kak Nah. Jika dari bireuen kita menuju ke daratan tinggi gayo, sudah hal yang pasti untuk menikmati langsung racikan kopi di tengah-tengah kebun kopi, adapun untuk cinderamata salah satunya adalah kerawang gayo, selain kopi tentunya. Terdapat  ciri khas dan tersimpan dalam  ingatan kita, lalu muncul ketika menyebutkan atau mendengar nama-nama suatu daerah tersebut.  Wisata pikiran kita belum selesai, dari wisata pikiran inilah, kita harapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kabupaten Bireuen untuk berbenah diri terkait kepariwisataan.

Mari kita kupas sedikit problematika yang terdapat di  wisata kabupaten Bireuen. Sebelumnya, kita sebagai masyarakat Bireuen patut berterimakasih kepada Duta Wisata maupun Stakholder yang sudah memperkenalka wisata kuliner yang ada di Bireuen. Namun, selain wisata kuliner, pun tidak menutup kemungkinan bahwa para pencinta alam dapat menemukan destinasi wisata baru yang masih tersembunyi. Akan tetapi, sebelum kita mencari destinasi yang masih asri, masih banyak destinasi-destinasi yang dulunya sempat diperhatikan kini hampir bisa dikatakan terbengkalai dan dipenuhi oleh hantu-hantu seperti, sampah, pempes, pembalut wanita, puntung rokok dan sampah plastik lainnya.

Destinasi pantai Ujong Blang hingga Pantai Kuala Raja Bireuen, berwisata dengan keindahan pantai yang memanjakan mata, berwisata bersama teman dan keluarga. Namun, sekarang ini berwisata ke sana tidaklah sesuai dengan ekspektasi kita lagi, hantu-hantu kian bertebaran di sepanjang pantai, tak ada lagi lahan untuk bermain sepak bola disepanjang tepian pantai, apalagi duk meuramin untuk makan bersama kelurga sambil menikmati keindahan ciptaan Allah. Siapa yang bertanggung jawab atas kehadiran hantu-hantu tersebut, menyalahkan duta wisata? Tidak!. Secara moral kitalah sebagai masyarakat Bireuen yang harus bertanggung jawab atas semua itu, pun demikian dengan pemerintah, sampah adalah pekerjaan besar bagi pariwisata, jika dengan kehadiran pariwisata dapat merusak primadona Bireuen, maka niscaya bukanlah pariwisata, melainkan Hantu Blau.

Pergantian kedudukan  Duta Wisata Bireuen semakin dekat, kita harapkan dengan adanya pemilihan Duta Wisata ini, maka seharusnya semakin berkembang pula pariwisata yang ada di Kabupaten Bireuen, pun demikian dengan proses pemilihan Duta Wisata kedepan semoga lebih professional dan proporsional. Pemerintah harus ikut andil dalam hal ini, bukan sekedar menjadi symbol bagi perkembangan pariwisata yang ada. Namun dengan mendukung program-program yang ditawarkan oleh Duta Wisata maupun Stakholder lainnya, yang dapat membantu kemajuan pariwisata yang ada, bukan hanya but peuabeh peng saja, melainkan dengan hasil yang nyata.

Terakhir sebelum mengakhiri wisata pikiran kita, saya mengharapkan untuk kemajuan pariwisata Kabupaten Bireuen tidak hanya terlalu fokus terhadap kuliner saja, melainkan juga harus diperhatikan juga terhadap destinasi-destinasi lainnya. Jangan sampai ada destinasi wisata yang terbengkalai, apalagi hantu-hantu itu berkembang biak di seluruh destinasi wisata yang ada. Ini adalah tugas saya, anda, duta wisata, pemerintah, sehingga ini adalah tugas kita bersama sebagai manusia.  Ini bukanlah akhir dari wisata pikiran kita, masih sangat banyak yang harus kita kerjakan untuk kemajuan pariwisata Kabupaten Bireuen. Semoga kita dalam lindungan Allah.

 *Mahasiswa Aceh di Yogyakarta jurusan Pariwisata.



Tumbuhan Ganja


Oleh: Muhammad Arief El-Ibrahim
(image: Big Buds Magazine)

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenl dengan obat Psikotropika karena adanya kandungan zat Tetrahidrokanabinol (THC) yang dapat membuat pengunanya euforia. Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.
Tumbuhan ganja sudah dikenal manusia sejak lama dan sudah digunakan untuk membuat kantung karena seratnya sangat kuat, biji ganja diproduksi sebagai sumber minyak. Jika dilihat dari balik kacamata ekonomi, ganja menjadi salah satu yang bisa digunakan untuk meraup keuntungan yang luar biasa, walaupun dibeberapa negara, ganja menjadi musuh yang harus dibumi hanguskan sampai keakar-akarnya (pengedar), seperti negara Indonesia yang melarang keras terkait perganjaan, meskipun Indonesia memiliki tanah yang subur untuk kehidupan sang Ganja. Aceh adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, bisa dikatakan surga dunia, selain penghasil kopi dari daratan  Gayo juga mempunyai tanah yang dapat menghasilkan tanaman ganja secara sempurna.
Di indonesia ada beberapa organisasi atau LSM yang ikut menyuarakan pelegalan ganja, hal itu dilakukan agar pemerintah mengeluarkan regulasi terkait perganjaan nasional, baik itu untuk keperluan medis maupun diguakan keperluan produksi, seperti serat ganja yang dapat digunakan untuk pakaian, tali, bahan-bahan yang sekarang ini masih menggunkan plastik yang tidak ramah lingkunan, serat ganja dapat menjawab berbagai permasalahan itu.
Aceh adalah sebuah daerah yang berada di ujung pulau Sumatra, perbatasan antara Medan yang membentang luas hingga ke Sabang. Seperti yang kita tahu bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak luput dari sumbangsih rakyat Aceh, selain sebagian emas yang menjadi monumen nasional tepatnya di Jakarta adalah RI 001 yang diberikan kepada Indonesia dari sumbangan rakyat aceh guna mempertahankan kedaulatan. Kita tidak akan berbicara terkait ganja untuk keperluan medis secara keseluruhan, namun di sini pembaca adalah Wisatawan yang sedang berwisata di tengah perkebunan Ganja, melihat, mengamati.
Kita terlalu skeptis terhadap tanaman ganja itu sendiri, program-program yang mensosialisakan tentang narkoba khususnya ganja hanyalah menceritakan beberapa bagian saja sambil mempertonton mantan pecandu narkoba, sangat disayangkan ketika pengetahuan dibatasi dan menimbulkan ketakutan-ketakutan terhadap tanaman ganja yang masuk kedalam narkotika golongan 1 di Indonesia, padahal yang seharusanya dilakukan adalah menjalsakan atau mensosialisasikan secara utuh terkait ganja yang dianggap sebagai narkoba, misalnya membuka kejelasan tentang ganja dari sudut pandang Budaya, spiritual, kuliner, secara holistik. Padahal Ganja sebagai bumbu masak telah digunakan sejak puluhan tahun lalu, dengan kadar yang tidak berlebihan. Salah satu kuliner yang digunakan bumbu biji ganja adalah kuah beulangoeng misalnya, seperti gulai yang berbahan dasar daging. Daging yang digunakan pun cukup beragam, seperti daging kambing, kerbau, lembu dan lain sebagainya. Ukuran kuali atau belanga cukuplah besar, dengan diameter hampir mencapai 1 meter.









Jangan Membuka Aib!

(Image ; Google)

"Guru... itu gadis yang bulan lalu diarak warga karena kedapatan mesum dengan pemuda kampung sebelah." Dari pematang sawah jarinya menunjuk ke jalanan setapak.

"Plak..." Seketika telapak tangan mendarat di pipinya. Ia pun terkejut tak karuan.

"Ambil ini! Pukul aku jika engkau marah!" Sang guru menyodorkan gagang cangkul.

Seketika wajahnya memerah. Suasana hening.

"Pukul aku! Allah saja sudah menutup aibnya. Mengapa engkau membukanya kepadaku."

"Guru..."

"Salahku sebagai guru karena tak betul dalam mendidik. Pukul! Pukul! Ambil ini!" Suaranya meninggi ditambah tetesan bening membasahi pipinya.

"Maafkan saya guru." Dipeluknya jasad tua itu yang mulai keriput. Tangisannya mendesak parau dengan rasa takut.

"Wahai anakku. Ketahuilah... Man Satara musliman Satarahullahu yaumal Qiyamah. Siapapun yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di akhirat kelak. Siapa di antara kita di dunia ini yang tidak memiliki aib? Tidak ada. Semua kita memiliki aib. Hanya saja Allah menutupnya."

Wajahnya pucat pasi. Suara tangis sang murid meninggi diiringi nyanyian katak di tengah sawah. Dipandangnya tangan sang guru yang mulai gemetar. 

"Duduklah di sini!" Seret lembut sang guru menggenggam tangan mungil itu ke ujung balai bambu tua. 

*

"Alkisah..." Sang guru mulai bercerita dengan wajahnya memandang langit. Tadahnya seakan memberi isyarat agar air mata itu terus mendekam di relung sana.

Dahulu di negeri Yaman ada seorang lelaki yang shalih, alim dan sangat disegani di kampungnya. Ia dijodohkan dengan seorang gadis yang cantik, jelita dan juga santun.

Awal rumah tangga mereka sangat indah. Makan bersama, minum segelas berdua, dan hidup seakan begitu indah saat cabang bayi mulai bersarang di rahim sang istri.

Boleh dikatakan hidup mereka tentram. Hingga pada suatu hari. Tibalah masa melahirkan sang istri. Terjadilah sebuah masalah. Sang istri melahirkan terlalu cepat. Namun kata dokter usia kandungan pas sembilan bulan, sedang pernikahan mereka baru masuk tujuh bulan.

Dengan perasaan bersalah, sang istri mengakui bahwa ia telah tidur dengan lelaki lain sebelum menikah dengannya. Namun sang laki-laki itu lari. 

Tak tahu harus marah kepada siapa. Pikiran sang suami berkecamuk. Di satu sisi ia sangat benci kepada pengakuan sang istri. Di sisi lain ia juga sangat mencintai sang istri dengan akhlaknya setelah menikah. 

Ia keluar dari rumah. Digerainya sajadah di tengah mesjid. Shalatlah ia mencari petunjuk. 

"Ya Allah... Ya Allah." Lisannya terus menari-nari memohon arah.

Saat ia pulang. Dilihatnya sang bayi tertidur dengan mungilnya. Rasa ibanya muncul. Dilihatnya sang istri. Berperanglah isi hatinya. 

"Baiklah... sudah kuputuskan. Kau tak akan kuceraikan. Tapi anak ini bukan anakku. Karena secara hukum syar'i ia memang bukan darah dagingku. Tidak menerima warisanku dan tidak menggantung pada nama besarku. Tidak ada Bin pada dirinya, karena ia adalah anak zina. Nasabnya hanya pada dirimu sebagai ibunya. Dan selamanya ia tak memiliki Ayah."

Sang istri terisak. Suaranya parau tak sanggup mengeluarkan nada.

"Tapi sebagai orang yang beragama. Aku tak akan membuka aibmu. Kau berubahlah. Jangan kembali kepada masa lalumu." Ucap sang suami dengan hati remuk.

Keesokan paginya saat shalat subuh. Diambilnya sang bayi tanpa pengetahuan sang istri. Dimasukkannya kedalam sebuah kotak kardus. Sengaja ia datang terlambat ke mesjid agar tak ada yang melihatnya. Ia ingin meletakkan kardus itu di pelataran mesjid. 

"Assalamu'aikum warahmatullah... Assalmu'laikum warahmatullah..."

Seketika ia bangun dari jamaah dan Langkahnya cepat menuju pelataran mesjid. Diambilnya kotak itu kembali.

"Aku menemukan seorang bayi... Aku menemukan seorang bayi..." soraknya keras hingga kemudian dihampiri semua jamaah mesjid.

"Allahu Akbar... Anak siapa ini?" Jamaah saling berebut tanya ingin memastikan. 

*
Singkat cerita. Setelah musyawarah panjang di dalam mesjid. Diambillah sebuah kesimpulan. 

"Sebagaimana mana dalam Bab Luqathah. Maka yang berhak mengadopsi ini adalah saya. Karena yang menemukannya pertama kali adalah saya." Ucap sang suami tadi kepada seluruh jamaah. 

Dibawanya pulang anak tersebut. Hingga pada akhirnya, semua masyarakat di kampung menganggap anak tersebut bukan darah dagingnya. Namun ia hanya sebagai ayah angkat saja. Sebagai adobsi dari hasil temuannya.

Niat mulianya tercapai. Aib istrinya tak terbongkar. Anak itupun dibesarkan olehnya dengan tanpa menisbatkan anak itu sebagai anaknya. 

*

Usai cerita murid pun memohon maaf kepada sang guru. Dan ia berjanji tak akan lagi membuka aib orang lain. 

"Jika kamu tak mampu menjadi seperti lelaki tadi. Minimal jagalah lisanmu wahai anakku."

"Insyaallah guru."

"Lisan itu konsekuensinya bukan hanya akhirat saja, tapi di dunia juga. Sah tidak sahnya sesuatu sangat terkait lisan. Jual beli, aqad nikah, cerai, dhihar, li'an, bahkan shalat pun demikian."

*

Note : Diceritakan kembali dengan hiperbola yang over. Diambil dari kisah yang diceritakan oleh Syeikh Daud ar-Rifai Yordania saat pelajaran Fiqh Syafi'i dan beliau mendengar dari Syeikh Salim Khatib Yaman.