Pemuda Gagal dan Seekor Semut

By Google
Alkisah di Negeri Mauritania (Afrika), hiduplah seorang pemuda yang sangat rajin namun tidak begitu cerdas. Pada suatu hari ia mengkhatamkan kitab al-Jarumiyyah dengan sang guru, namun naasnya tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya. "Aku harus membaca sekali lagi sampai lembaran terakhir, agar kepalaku dapat mengingat isi kitab ini." Setelah selesai membaca kitab al-Jarumiyyah kali yang kedua, ia tetap saja tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya tersebut. Kemudian dicobanya kembali dan khatam untuk kali yang kedelapan. Namun tetap saja masih sama. Ia pun mulai pesimis. "Jika kali ini aku tak mampu mengingat isi kitab ini, maka aku tak akan belajar ilmu nahwu lagi seumur hidupku."

Resensi Kitab Tauhid Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah

Foto by Yasmin (Editor Website KMAMesir.Org)
Judul                 : Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah 

Penulis          : Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid Al-Adawy (Syekh Ad-Dardir)

Pentahqiq         : Mustafa Abu Zaid Mahmud Risywan Tanggal Terbit : 2010 M/ 1431 H 

Penerbit            : Dar Al-Bashaer  - Kairo (Mesir)

Tebal Halaman : 355 

Tauhid merupakan hal pokok dan mendasar yang harus diketahui oleh setiap muslim tanpa kecuali. Benarnya tauhid memberikan dampak besar dan signifikan dalam sah atau tidaknya sebuah kegiatan ibadah. Kitab Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah karya Syekh Ahmad Ad-Dardir yang ditahqiq oleh Syaikh Mustafa Abu Zaid Mahmud Risywan merupakan kitab dasar tentang llmu Tauhid yang dinazhamkan dalam bentuk 71 bait-bait arab.

Kitab ini mengulas secara rinci tentang pembagian tauhid yang harus dipahami oleh setiap muslim. Pentahqiq sendiri membagi kitab ini menjadi 7 bagian bahasan. Bagian pertama untuk menerangkan siapa ahlu sunnah wal jamaah, bagian kedua mengenai sosok Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, bagian tiga mengenalkan para ulama asy’ariyah. Lalu pada bagian keempat beliau meluruskan penentang aqidah asy’ariyah, bagian kelima memulai muqaddimah Ilmu Tauhid, bagian keenam memperkenalkan biografi Syekh Ahmad Ad-Dardir, dan bagian terakhir mengenai susunan 71 bait-bait matan Al-Kharidah Al-Bahiyyah. 

Anakku di Rantau, Pulanglah!

By Google
Kakinya yang mulai melemah terus saja dipaksa mengayuh sepeda Phoenix pabrikan Cina melewati jalanan kota Lhokseumawe. Keringatnya yang mulai membanjiri dahi di bawah sengatan 36 derajat, seakan tak diperdulikannya lagi. Dalam benaknya hanya satu niat terbesar hari itu, bertemu Tengku Hasan. Sudah enam bulan ia tak mendapat Telepon dari anak lelakinya Rahman. Walau di sekitar rumah, para tetangga memiliki telepon genggam, ia tetap lebih nyaman meminta bantuan kepada Tengku Hasan. Selain kerabat dekat, Tengku Hasan juga memiliki toko penjualan elektronik di Pasar Impres.

Mak Lela sudah terlalu meusyen untuk mendengar suara anak lelakinya itu. Sudah tujuh tahun ia ditinggal anaknya Rahman yang merantau ke Mesir.  Selain tinggal sendiri, Mak Lela sehari-harinya bekerja sebagai penjual pakaian kredit keliling desa. Tahun lalu ia masih tinggal dengan suaminya Tengku Lah. Namun setelah kepergian sang suami yang meninggal karena ditabrak truk pasir, ia akhirnya menjanda.


Belajar Gratis Quran Bersanad di Mesir


ADA hal menarik selama saya menuntut ilmu di Mesir, negeri para nabi. Para pelajar mempelajari Quran secara bersanad. Baik itu orang dewasa, maupun anak-anak. 


Sanad merupakan silsilah atau mata rantai informasi ajaran Islam dari generasi pendahulu kepada generasi sesudahnya. Ataupun mata rantai informasi yang disampaikan Rasulullah kepada sahabat, lalu sahabat menyampaikan kepada tabi’in, dan tabi’in menyampaikan kepada generasi di bawahnya, sehingga sampailah informasi tersebut kepada kita sekarang ini secara akurat.



Dalam istilah kamus, sanad disebut juga sandaran, hubungan, atau rangkaian perkara yang dapat dipercayai. Dengan kata lain, sanad adalah rentetan rawi hadis sampai kepada Nabi Muhammad saw.



Para ulama besar pun sebelum memulai berbagai hal dalam menuntut ilmu, mereka pastilah memulai segala sesuatu dengan Alquran. Sebut saja, misalnya, Muhammad bin Idris asy-Syafi’I al-Muththalibi al-Qurasyi yang lebih dikenal dengan Imam Syafii. Sebelum belajar hadis kepada Imam Malik, beliau lebih dulu menghafal Alquran pada usia sepuluh tahun.



Dalam pembelajaran Alquran ada beberapa tingkatan yang harus dilalui dalam pengambilan sanad. Ada sanad tahsin (memperbaiki bacaan tajwid), tahfiz (hafalan Quran), dan qiraat (model-model bacaan Alquran).



Saya sendiri diizinkan mengambil sanad tahsin sekaligus tahfizAlquran oleh Syaikh Ahmad Ali yang merupakan syaikh lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo. 



Saya juga dijadwalkan khusus untuk menyetor dua rubu’ setiap minggunya, yakni pada hari Selasa siang dan Kamis pagi. 



Dalam proses pembelajaran pun setiap murid dianjurkan menggunakan satu mushaf Alquran yang tidak boleh diganti sampai selesai setoran bacaan dan diberi ijazah nantinya. Soalnya, menggonti-ganti mushaf justru hanya akan membuat proses hafalan menjadi berantakan alias amburadul. Itu disebabkan proses daya tangkap otak manusia yang cenderung lebih mudah mengingat hafalan dengan satu mushaf saja.



Untuk jenis Alquran pun saya lebih memilih jenis maudhu’i, yaitu jenis Alquran yang diberi warna-warni sesuai topik di dalam bahasan Quran. Namun, di samping itu banyak juga pelajar yang memilih mushaf tajwid dan Madinah yang lebih jelas pembagian tulisannya. 



Untuk tempat pengambilan sanad pun saya lebih memilih markaz tahfizh di belakang Masjid Sayyidina Husein, dekat dengan Kampus Al-Azhar yang pertama (tertua). 



Selain dekat dengan tempat kediaman saya, markas ini juga dekat dengan makam Sayyidina Husein, cucu Rasulullah saw.



Sejauh yang saya amati, semua tempat pengajaran Alquran di Mesir tidak dipungut biaya alias gratis. Baik itu di Masjid Al-Azhar ataupun markaz tahfizh lainnya. Hanya komitmen dan kesungguhan saja yang dibutuhkan oleh para pelajar untuk mendalami Alquran. Bahkan, ada beberapa syaikh yang sangat begitu peduli kepada warga asing, sampai-sampai ia sengaja menyediakan bus khusus setiap minggunya. Tujuannya adalah untuk menjemput para pelajar yang ingin mendalami Alquran untuk dibawa ke halaqah beliau nantinya.



Jika ditilik lebih jauh, di Mesir sanad bukan hanya dikhususkan pada pengajaran Alquran saja. Tapi juga dalam berbagai disiplin ilmu agama lainnya seperti sanad ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu lughah, dan sanad ilmu fikih.



Hampir semua anak yang hafal Alquran di usia sepuluh tahun memiliki sanad. Boleh dikata, anak-anak hafal Alquran pada usia sepuluh tahun menjadi hal biasa di Mesir ini. Bahkan beberapa hari yang lalu saya berjumpa dengan satu keluarga yang ketiga putra-putrinya sudah hafal Alquran saat mereka berusia di bawah sepuluh tahun. 



Bahkan sekarang mereka sudah mulai menghafal Kutubu Sittah atau kitab-kitab hadis layaknya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. 



Hal yang paling sering saya ingat ketika sang guru mengakhiri halaqah Quran adalah kata-kata berikut ini: Jika kamu ingin menghafal Matan Alfiyyah Ibn Malik dalam ilmu nahwu ataupun Matan Abi Suja’ dalam ilmu fikih, maka hafallah Alquran, karena Alquran adalah sumber dari segala matan. Dan jika kamu belajar Alquran, belajarlah pada guru yang bersanad, karena sesungguhnya dengan sanad, bacaan Alquranmu akan lebih mudah serupa dengan bacaan Rasulullah saw. 



Sesungguhnya bagi seorang muslim, Alquran merupakan pedoman yang tak sedikit pun dapat dipisahkan dari kehidupan dirinya. Kalam Ilahi yang Allah turunkan dalam bahasa Arab melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw ini berwujud sebagai sumber pengetahuan dan sejarah, sumber segala zikir dan sumber berbagai literatur dalam dunia sastra. Maka, beruntunglah orang-orang yang mempelajarinya dengan totalitas. 

Autobiografi

Lahir di Krueng Mane, 31 Juli 1991 (Aceh Utara - Indonesia). Alumni Pesantren tahun 2009 dan sekarang sedang menempuh pendidikan formal Master of Education di IARS Cairo dan pendidikan non-formal di Masjid Al-Azhar - Mesir. Hobi traveling, fotografi dan melukis. Pernah menjadi guru bahasa arab di Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh (Link) dan relawan di TPM-Tanyoe Aceh Besar (Link). Tertarik dengan dunia Pendidikan Anak dan segala sesuatu yang berbau Media Pembelajaran. 

Saat berumur 23 tahun