Tumbuhan Ganja


Oleh: Muhammad Arief El-Ibrahim
(image: Big Buds Magazine)

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenl dengan obat Psikotropika karena adanya kandungan zat Tetrahidrokanabinol (THC) yang dapat membuat pengunanya euforia. Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.
Tumbuhan ganja sudah dikenal manusia sejak lama dan sudah digunakan untuk membuat kantung karena seratnya sangat kuat, biji ganja diproduksi sebagai sumber minyak. Jika dilihat dari balik kacamata ekonomi, ganja menjadi salah satu yang bisa digunakan untuk meraup keuntungan yang luar biasa, walaupun dibeberapa negara, ganja menjadi musuh yang harus dibumi hanguskan sampai keakar-akarnya (pengedar), seperti negara Indonesia yang melarang keras terkait perganjaan, meskipun Indonesia memiliki tanah yang subur untuk kehidupan sang Ganja. Aceh adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, bisa dikatakan surga dunia, selain penghasil kopi dari daratan  Gayo juga mempunyai tanah yang dapat menghasilkan tanaman ganja secara sempurna.
Di indonesia ada beberapa organisasi atau LSM yang ikut menyuarakan pelegalan ganja, hal itu dilakukan agar pemerintah mengeluarkan regulasi terkait perganjaan nasional, baik itu untuk keperluan medis maupun diguakan keperluan produksi, seperti serat ganja yang dapat digunakan untuk pakaian, tali, bahan-bahan yang sekarang ini masih menggunkan plastik yang tidak ramah lingkunan, serat ganja dapat menjawab berbagai permasalahan itu.
Aceh adalah sebuah daerah yang berada di ujung pulau Sumatra, perbatasan antara Medan yang membentang luas hingga ke Sabang. Seperti yang kita tahu bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak luput dari sumbangsih rakyat Aceh, selain sebagian emas yang menjadi monumen nasional tepatnya di Jakarta adalah RI 001 yang diberikan kepada Indonesia dari sumbangan rakyat aceh guna mempertahankan kedaulatan. Kita tidak akan berbicara terkait ganja untuk keperluan medis secara keseluruhan, namun di sini pembaca adalah Wisatawan yang sedang berwisata di tengah perkebunan Ganja, melihat, mengamati.
Kita terlalu skeptis terhadap tanaman ganja itu sendiri, program-program yang mensosialisakan tentang narkoba khususnya ganja hanyalah menceritakan beberapa bagian saja sambil mempertonton mantan pecandu narkoba, sangat disayangkan ketika pengetahuan dibatasi dan menimbulkan ketakutan-ketakutan terhadap tanaman ganja yang masuk kedalam narkotika golongan 1 di Indonesia, padahal yang seharusanya dilakukan adalah menjalsakan atau mensosialisasikan secara utuh terkait ganja yang dianggap sebagai narkoba, misalnya membuka kejelasan tentang ganja dari sudut pandang Budaya, spiritual, kuliner, secara holistik. Padahal Ganja sebagai bumbu masak telah digunakan sejak puluhan tahun lalu, dengan kadar yang tidak berlebihan. Salah satu kuliner yang digunakan bumbu biji ganja adalah kuah beulangoeng misalnya, seperti gulai yang berbahan dasar daging. Daging yang digunakan pun cukup beragam, seperti daging kambing, kerbau, lembu dan lain sebagainya. Ukuran kuali atau belanga cukuplah besar, dengan diameter hampir mencapai 1 meter.









Jangan Membuka Aib!

(Image ; Google)

"Guru... itu gadis yang bulan lalu diarak warga karena kedapatan mesum dengan pemuda kampung sebelah." Dari pematang sawah jarinya menunjuk ke jalanan setapak.

"Plak..." Seketika telapak tangan mendarat di pipinya. Ia pun terkejut tak karuan.

"Ambil ini! Pukul aku jika engkau marah!" Sang guru menyodorkan gagang cangkul.

Seketika wajahnya memerah. Suasana hening.

"Pukul aku! Allah saja sudah menutup aibnya. Mengapa engkau membukanya kepadaku."

"Guru..."

"Salahku sebagai guru karena tak betul dalam mendidik. Pukul! Pukul! Ambil ini!" Suaranya meninggi ditambah tetesan bening membasahi pipinya.

"Maafkan saya guru." Dipeluknya jasad tua itu yang mulai keriput. Tangisannya mendesak parau dengan rasa takut.

"Wahai anakku. Ketahuilah... Man Satara musliman Satarahullahu yaumal Qiyamah. Siapapun yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di akhirat kelak. Siapa di antara kita di dunia ini yang tidak memiliki aib? Tidak ada. Semua kita memiliki aib. Hanya saja Allah menutupnya."

Wajahnya pucat pasi. Suara tangis sang murid meninggi diiringi nyanyian katak di tengah sawah. Dipandangnya tangan sang guru yang mulai gemetar. 

"Duduklah di sini!" Seret lembut sang guru menggenggam tangan mungil itu ke ujung balai bambu tua. 

*

"Alkisah..." Sang guru mulai bercerita dengan wajahnya memandang langit. Tadahnya seakan memberi isyarat agar air mata itu terus mendekam di relung sana.

Dahulu di negeri Yaman ada seorang lelaki yang shalih, alim dan sangat disegani di kampungnya. Ia dijodohkan dengan seorang gadis yang cantik, jelita dan juga santun.

Awal rumah tangga mereka sangat indah. Makan bersama, minum segelas berdua, dan hidup seakan begitu indah saat cabang bayi mulai bersarang di rahim sang istri.

Boleh dikatakan hidup mereka tentram. Hingga pada suatu hari. Tibalah masa melahirkan sang istri. Terjadilah sebuah masalah. Sang istri melahirkan terlalu cepat. Namun kata dokter usia kandungan pas sembilan bulan, sedang pernikahan mereka baru masuk tujuh bulan.

Dengan perasaan bersalah, sang istri mengakui bahwa ia telah tidur dengan lelaki lain sebelum menikah dengannya. Namun sang laki-laki itu lari. 

Tak tahu harus marah kepada siapa. Pikiran sang suami berkecamuk. Di satu sisi ia sangat benci kepada pengakuan sang istri. Di sisi lain ia juga sangat mencintai sang istri dengan akhlaknya setelah menikah. 

Ia keluar dari rumah. Digerainya sajadah di tengah mesjid. Shalatlah ia mencari petunjuk. 

"Ya Allah... Ya Allah." Lisannya terus menari-nari memohon arah.

Saat ia pulang. Dilihatnya sang bayi tertidur dengan mungilnya. Rasa ibanya muncul. Dilihatnya sang istri. Berperanglah isi hatinya. 

"Baiklah... sudah kuputuskan. Kau tak akan kuceraikan. Tapi anak ini bukan anakku. Karena secara hukum syar'i ia memang bukan darah dagingku. Tidak menerima warisanku dan tidak menggantung pada nama besarku. Tidak ada Bin pada dirinya, karena ia adalah anak zina. Nasabnya hanya pada dirimu sebagai ibunya. Dan selamanya ia tak memiliki Ayah."

Sang istri terisak. Suaranya parau tak sanggup mengeluarkan nada.

"Tapi sebagai orang yang beragama. Aku tak akan membuka aibmu. Kau berubahlah. Jangan kembali kepada masa lalumu." Ucap sang suami dengan hati remuk.

Keesokan paginya saat shalat subuh. Diambilnya sang bayi tanpa pengetahuan sang istri. Dimasukkannya kedalam sebuah kotak kardus. Sengaja ia datang terlambat ke mesjid agar tak ada yang melihatnya. Ia ingin meletakkan kardus itu di pelataran mesjid. 

"Assalamu'aikum warahmatullah... Assalmu'laikum warahmatullah..."

Seketika ia bangun dari jamaah dan Langkahnya cepat menuju pelataran mesjid. Diambilnya kotak itu kembali.

"Aku menemukan seorang bayi... Aku menemukan seorang bayi..." soraknya keras hingga kemudian dihampiri semua jamaah mesjid.

"Allahu Akbar... Anak siapa ini?" Jamaah saling berebut tanya ingin memastikan. 

*
Singkat cerita. Setelah musyawarah panjang di dalam mesjid. Diambillah sebuah kesimpulan. 

"Sebagaimana mana dalam Bab Luqathah. Maka yang berhak mengadopsi ini adalah saya. Karena yang menemukannya pertama kali adalah saya." Ucap sang suami tadi kepada seluruh jamaah. 

Dibawanya pulang anak tersebut. Hingga pada akhirnya, semua masyarakat di kampung menganggap anak tersebut bukan darah dagingnya. Namun ia hanya sebagai ayah angkat saja. Sebagai adobsi dari hasil temuannya.

Niat mulianya tercapai. Aib istrinya tak terbongkar. Anak itupun dibesarkan olehnya dengan tanpa menisbatkan anak itu sebagai anaknya. 

*

Usai cerita murid pun memohon maaf kepada sang guru. Dan ia berjanji tak akan lagi membuka aib orang lain. 

"Jika kamu tak mampu menjadi seperti lelaki tadi. Minimal jagalah lisanmu wahai anakku."

"Insyaallah guru."

"Lisan itu konsekuensinya bukan hanya akhirat saja, tapi di dunia juga. Sah tidak sahnya sesuatu sangat terkait lisan. Jual beli, aqad nikah, cerai, dhihar, li'an, bahkan shalat pun demikian."

*

Note : Diceritakan kembali dengan hiperbola yang over. Diambil dari kisah yang diceritakan oleh Syeikh Daud ar-Rifai Yordania saat pelajaran Fiqh Syafi'i dan beliau mendengar dari Syeikh Salim Khatib Yaman.

Pemuda Gagal dan Seekor Semut

By Google
Alkisah di Negeri Mauritania (Afrika), hiduplah seorang pemuda yang sangat rajin namun tidak begitu cerdas. Pada suatu hari ia mengkhatamkan kitab al-Jarumiyyah dengan sang guru, namun naasnya tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya. "Aku harus membaca sekali lagi sampai lembaran terakhir, agar kepalaku dapat mengingat isi kitab ini." Setelah selesai membaca kitab al-Jarumiyyah kali yang kedua, ia tetap saja tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya tersebut. Kemudian dicobanya kembali dan khatam untuk kali yang kedelapan. Namun tetap saja masih sama. Ia pun mulai pesimis. "Jika kali ini aku tak mampu mengingat isi kitab ini, maka aku tak akan belajar ilmu nahwu lagi seumur hidupku."

Resensi Kitab Tauhid Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah

Foto by Yasmin (Editor Website KMAMesir.Org)
Judul                 : Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah 

Penulis          : Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid Al-Adawy (Syekh Ad-Dardir)

Pentahqiq         : Mustafa Abu Zaid Mahmud Risywan Tanggal Terbit : 2010 M/ 1431 H 

Penerbit            : Dar Al-Bashaer  - Kairo (Mesir)

Tebal Halaman : 355 

Tauhid merupakan hal pokok dan mendasar yang harus diketahui oleh setiap muslim tanpa kecuali. Benarnya tauhid memberikan dampak besar dan signifikan dalam sah atau tidaknya sebuah kegiatan ibadah. Kitab Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah karya Syekh Ahmad Ad-Dardir yang ditahqiq oleh Syaikh Mustafa Abu Zaid Mahmud Risywan merupakan kitab dasar tentang llmu Tauhid yang dinazhamkan dalam bentuk 71 bait-bait arab.

Kitab ini mengulas secara rinci tentang pembagian tauhid yang harus dipahami oleh setiap muslim. Pentahqiq sendiri membagi kitab ini menjadi 7 bagian bahasan. Bagian pertama untuk menerangkan siapa ahlu sunnah wal jamaah, bagian kedua mengenai sosok Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, bagian tiga mengenalkan para ulama asy’ariyah. Lalu pada bagian keempat beliau meluruskan penentang aqidah asy’ariyah, bagian kelima memulai muqaddimah Ilmu Tauhid, bagian keenam memperkenalkan biografi Syekh Ahmad Ad-Dardir, dan bagian terakhir mengenai susunan 71 bait-bait matan Al-Kharidah Al-Bahiyyah. 

Anakku di Rantau, Pulanglah!

By Google
Kakinya yang mulai melemah terus saja dipaksa mengayuh sepeda Phoenix pabrikan Cina melewati jalanan kota Lhokseumawe. Keringatnya yang mulai membanjiri dahi di bawah sengatan 36 derajat, seakan tak diperdulikannya lagi. Dalam benaknya hanya satu niat terbesar hari itu, bertemu Tengku Hasan. Sudah enam bulan ia tak mendapat Telepon dari anak lelakinya Rahman. Walau di sekitar rumah, para tetangga memiliki telepon genggam, ia tetap lebih nyaman meminta bantuan kepada Tengku Hasan. Selain kerabat dekat, Tengku Hasan juga memiliki toko penjualan elektronik di Pasar Impres.

Mak Lela sudah terlalu meusyen untuk mendengar suara anak lelakinya itu. Sudah tujuh tahun ia ditinggal anaknya Rahman yang merantau ke Mesir.  Selain tinggal sendiri, Mak Lela sehari-harinya bekerja sebagai penjual pakaian kredit keliling desa. Tahun lalu ia masih tinggal dengan suaminya Tengku Lah. Namun setelah kepergian sang suami yang meninggal karena ditabrak truk pasir, ia akhirnya menjanda.