Aceh Daerah Modal Kemerdekaan Indonesia

15.28 Hendri Julian 1 Comments

Image by Kaskus 
“Ureung Aceh meunye ka teupeh, bu leubeh han geupeutaba. 
Meunye tan teupeh boh kreh jeut taraba”

Aceh yang dalam Dekade terakhir ini dengan mengutip buku “Aceh Post Tsunami”  karya Kamaruzzaman Bustamam – Ahmad merupakan daerah modal yang menjadi rujukan dan model bangsa-bangsa lain. Tak terkecuali East Asia, nama Republik Indonesia yang disematkan oleh Belanda sebelum kemerdekaan, juga tak luput menjadikan Aceh sebagai konsep dalam membangun sebuah Negara Demokrasi yang maju. Sehingga nama Aceh selalu saja dapat ditemui dalam berbagai literatur dengan berbagai Bahasa, yang kemudian menjadi rujukan para penulis sejarah, maupun para peneliti sosial dan agama.

Sebelum masa kemerdekan Indonesia, Aceh telah lebih dahulu berdaulat dan mandiri. Aceh telah lebih dahulu maju dalam berbagai aspek, baik itu dari segi ekonomi,politik, budaya dan ilmu pengetahuan. 

Dalam buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII karya Azyumardi Azra” disebutkan, bahwa pada abad-abad  di mana Saudi Arabia belum menjadi sebuah negara yang sangat kaya seperti sekarang, di mana rakyatnya masih banyak yang miskin, termasuk tidak dapat memenuhi kebutuhan biaya pemeliharaan Ka’bah, Syarif Makkah pernah datang ke Aceh untuk mencari bantuan. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sulthanah Naqiatuddin, salah seorang raja perempuan Aceh di antara 4 raja perempuan yang pernah memimpin Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Aceh bersimpati dengan situasi saudaranya di Haramain dan kemudian mengirim bantuan dengan menghadiahkan sejumlah emas dan juga sadaqah dari sejumlah masyarakat Aceh untuk pemerliharaan Ka’bah dan Masjid Madinah, bahkan untuk sejumlah penduduk miskin di wilayah Haramain.


Belum lagi pada abad ke 17, di mana Aceh lebih dahulu menyumbangkan pemikiran islam untuk wilayah Asia Tenggara dengan berkiprahnya ulama-ulama bereputasi internasional, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Syaikh Nuruddin Ar-Raniry dan Syaikh Abdur Rauf As-Singkili. Bahkan hingga tahun 1940-an kitab “Mir’ah At-Tullab” buah tangan dari Syaikh Abdur Rauf As-Singkili masih dijadikan rujukan kitab fiqh untuk wilayah Mindano, begitu juga dengan kitab “Masailal Muhtadi” yang sekarang masih digunakan di Malaysia, Thailand dan sebagian wilayah Indonesia.

Jika ditinjau dari segi kedaulatan, Aceh pernah mengakui kedaulatan belanda, hal ini dapat ditemukan dari berbagai literatur abad ke 7-8. Saat itu belanda melalui Pangeran Maurist menyurati dan mengirim utusan kepada kerajaan Aceh agar dikabulkan kerja sama antara Aceh-Belanda, karena saat itu Portugis dan Spanyol sedang hebat-hebatnya menguasai dan mengontrol perdagangan laut mulai Giblartar, Samudra Atlantik, hingga Samudra Hindia. 

Dengan berlidah manis, Belanda merayu Aceh dengan mengatakan bahwa Portugis akan menjajah Aceh, dan Belanda meminta izin untuk membantu. Orang Aceh memiliki sifat mudah terkena rayuan dan percaya terhadap perkataan Belanda. Di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah, kerajaan Aceh mengirim seorang utusan untuk mengakui kedaulatan Belanda, Tuanku Abdoel Hamid, yang kemudian dikenal sebagai diplomat pertama Asia Tenggara untuk Eropa, walaupun dalam buku sejarah Indonesia tak pernah disebutkan. Namun, maret 1873 Belanda melancarkan agresi militer ke Aceh dan berencana mengambil hasil bumi dan rempah-rempah. Maklumat perang pun diplokamirkan terhadap Belanda pada 26 maret 1873.

Aceh dan Kemerdekaan Indonesia

Ketika hampir seluruh wilyah Indonesia telah direbut oleh nafsu liar Eropa, Aceh tak sedikitpun mundur menyerahkan tanah Indatu kepada siapapun, termasuk kepada Belanda yang lebih 350 tahun menjajah nusantara. 

Bahkan, ketika Indonesia ingin membangun sebuah negara yang berdaulat, Indonesia melalui lidah manis Soekarno lebih dahulu meminta bantuan kepada Aceh untuk membantu kemerdakaan “Tanah Republik Indonesia”.

Tapi sama halnya seperti Belanda, manis di bibir tak sama seperti kenyataan yang ada. Aceh dikhianati dengan digabungkannya Propinsi Aceh di bawah Propinsi Sumatra Utara. Aceh yang saat itu dipimpin oleh Daud Bereueh tertipu oleh tangisan Soekarno yang berjanji akan memberikannya hak menerapkan Syariat Islam di bumi Serambi Mekah jika Aceh mau bergabung untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam buku “Tgk. M. Daud Beureueh perannya dalam pergolakan di Aceh Karya M. Nur El Ibrahimy” disebutkan bahwa politik Pemerintah Pusat mengenai perjuangan umat Islam menimbulkan keresahan di kalangan rakyat Aceh. Dirasakan bahwa jalan bagi perjuangan Islam yang tadinya terbuka lebar, makin hari makin dipersempit, sehingga harapan untuk mencapai cita-cita kian lama kian suram. 

Pidato Presiden Soekarno di Amuntai yang menyatakan tidak menyukai lahirnya Negara Islam dari Republik Indonesia sangat mengecewakan rakyat Aceh yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat dan negara. Harapan rakyat ini dibuyarkan oleh pidato Presiden Sukarno tersebut. Padahal pada waktu kunjungannya ke Aceh yang pertama pada tahun 1947, beliau telah memberi harapan bagi perjuangan umat Islam Indonesia umumnya dan umat Islam Aceh khususnya.
Image by Google

Saat itu, Soekarno berdialog dengan Tgk. Daud Bereueh dengan memanggilnya dengan sebutan Kakak. Soekarno meminta bantuan kepada Aceh agar sudi kiranya mengirimkan bantuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, ketika disodorkan secarik kertas oleh Daud Bereueh agar memberi jaminan hitam di atas putih, Soekarno malah menangis terisak-isak. Dengan qasam sumpah “Wallahi dan billahi” Soekarno malah merembeskan air mata kepada Daud Bereueh bahwa dirinya tak dipercaya, dan apa gunanya iya jadi Presiden kalau tidak dipercaya oleh Gubernur Aceh yang ia pandang sebagai Daerah Modal. 

Modal Republik Indonesia

ketika Indonesia mengatakan telah berhasil menerapkan sistem demokrasi dengan memberikan hak kepada perempuan untuk menjadi Presiden. Aceh telah lebih dahulu menunjukkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ini terbukti dengan adanya sultanah-sultanah yang memimpin kerajaan Aceh secara berturut-turut, juga adanya perempuan Aceh yang memimpin armada peperangan layaknya Laksamana Kemala Malahayati dan Cut Nyak Dien.

Belum lagi, harta benda rakyat Aceh dan juga ide-ide pembaharuan yang diberikan cuma-cuma untuk Indonesia, agar kiranya negeri ini lebih berdaulat dan tidak mengemis kepada bangsa lain. Sebut saja Dakota RI-001 yang disumbangkan rakyat Aceh setelah kemerdekaan, kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Maskapai Garuda Indonesia. Yang sekarang notabenenya berubah menjadi Maskapai terbaik dan terkaya di Indonesia.

Ditambah lagi seperti yang disebutkan oleh M. Nur El Ibrahimy, bekas Mayor TNI Divisi Gajah I dan bekas anggota DPR-RI, “Dalam mengisi perlengkapan barisan-barisan yang berjuang di Medan Area, baik yang berasal dari daerah Aceh atau bukan, Aceh mengirimkan puluhan ribu ton beras, ribuan lembu dan kerbau, ribuan karung emping, baik emping dari beras, maupun dari buah melinjo dan bermacam ragam perbekalan lainnya. Demikian pula amunisi untuk keperluan barisan-barisan di Medan Area banyak sekali  didatangkan dari Aceh”.

 Patut diketahui pula bahwa sebagai akibat dari pertempuran yang terjadi di Medan Area, ribuan rakyat dari daerah-daerah sekitarnya di Sumatera Timur terpaksa mengungsi ke daerah Aceh. Mereka disantuni dengan baik oleh rakyat Aceh seperti mereka menyantuni saudaranya sendiri.
Bahkan mungkin, jika Radio Rimba Raya tidak mengambil alih dalam mengumandangkan kemerdekaan Indonesia kepada dunia, apakah kata-kata luasnya tanah air dari sabang sampai marauke bisa muncul seperti sekarang ini. 

Seperti kata bijak yang mendarah daging dalam masyarakat Aceh “Ureueng Aceh Meunye Ka Teupeh / Bu Leubeh Hana Geupeutaba/ Meunye tan teupeh / Boh kreh jeut taraba (Orang Aceh jika disakiti hatinya / nasi basi pun tak rela diberikannya / Tapi jika hatinya tak disakiti / Seakan alat vitalpun relanya untuk diberikan).

Jadi wajarlah jika masyarakat Aceh suka melawan di mana pun mereka berada. Bukan karena ingin, tapi itu semua dilakukan karena diminta. Padahal jika mengenal lebih dalam akan masyarakat Aceh, sungguh mereka adalah orang-orang yang lembut hatinya dan taat dalam Agama.


(Tulisan ini juga diterbitkan di majalah El-Asyie - Mesir)



1 komentar: