Bertalaqqi di Mesir Serasa Mengaji di Aceh

15.47 Hendri Julian 0 Comments

Pengajian di Madyafah Syaikh Ali Jumah dengan Habib Ahmad Yamani


ALHAMDULILLAH, genap sebulan sudah saya berada di Mesir, negeri yang kaya akan peradaban dan ilmu pengetahuan. Negeri yang menamakan dirinya Ummu ad-Dunya, yaitu ibunya dunia. Setiap tahun negeri ini didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia, baik dari timur, utara, barat, maupun selatan penjuru bumi. Tak terkecuali dari ujung Sumatera, Bumi Serambi Mekkah, seperti saya. Di Mesir, agama memiliki peranan besar dalam kehidupan masyarakat. Azan yang dikumandangkan lima kali sehari semalam menjadi “penentu” berbagai kegiatan.

Begitupun, Kairo selaku ibu kota Mesir selain dikenal dengan aneka menara masjid, juga dikenal dengan berbagai menara gereja. Namun, menurut Konstitusi Mesir, semua perundang-undangan di sini harus sesuai dengan hukum Islam. Negara mengakui mazhab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di sekolah keahlian untuk menjadi imam masjid dan juga imam di Universitas Al-Azhar yang memiliki komite untuk memberikan fatwa untuk masalah agama.

Sebanyak 90% penduduk Mesir menganut Islam, mayoritas Sunni, dan sebagian juga menganut ajaran Sufi lokal. Sekitar 10% penduduk Mesir menganut agama Kristen, 78% dalam denominasi Koptik (Koptik Ortodoks, Katolik Koptik, dan Protestan Koptik). (Wikipedia)

Walaupun baru sebulan saya berada di Mesir, tapi negeri para ambiya ini membuat saya jatuh hati dan terlena. Apalagi, saat diajak seorang teman untuk mengikuti talaqqi (mengaji) di Madyafah Syaikh Ali Jumah dan Syaikh Ismail Shadiq al-Adawi.

Talaqqi sendiri bermakna jumpa, artinya mengaji dan bertatapan langsung dengan sang guru. Kegiatan ini hampir mirip dengan proses mengaji di dayah-dayah Aceh. Di mana seorang murid membaca matan kitab dan kemudian guru mensyarahkan isi dari kitab tersebut.

Dalam tingkatan talaqqi, ada beberapa tahapan yang boleh diikuti. Ada talaqqi yang diperuntukkan bagi tingkat pemula (mubtadi), tingkat menengah (mutawassith), dan untuk tingkat akhir (muntahi).

aya sendiri mengambil tingkat mubtadi untuk jadwal talaqqi dengan Kitab Hasyiah Fathul Qarib lil-Bajuri untuk kajian fikih Syafii, Kharidah Bahiyyah untuk kajian akidah, Adabu as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Mutaalim untuk kajian akhlak, Syarah Matan ar-Bain untuk kajian hadis, dan Syarah Ibnu Aqil untuk kajian ilmu nahwu.

Selain itu, banyak juga di antara mahasiswa Aceh yang ikut program tahsin dan tahfiz Alquran bersama para masyaikh (guru besar) di sini.

Yang membuat saya tertarik dengan para masyaikh di tempat talaqqi ini adalah cara mengajar mereka yang sangat mirip dengan metode pengajian di Aceh. Para masyaikh duduk dia atas kursi khusus, mensyarah isi kitab. Jika ada yang tak dipahami oleh sang murid, maka murid dipersilakan bertanya kepada syaikh tersebut. Dalam ber-talaqqi ini saya serasa sedang mengaji di balee dayah Aceh. Padahal, semua syarahan syaikh tersebut dalam bahasa Arab.
Pengajian di Madyafah Syaikh Ali Jumah dengan Habib Ahmad Yamani

Di samping itu, para masyaikh ini tidak dibayar sedikit pun dalam mengajar, walaupun hakikatnya semua masyaikh telah bergelar duktur (S3) ataupun bergelar ustaz (profesor). Bahkan, kebanyakan dari mereka malah membagikan kitab gratis kepada para jamaah yang hadir saat permulaan pengajian yang jumlah jamaahnya sangatlah banyak, lebih dari seratus orang.
Yang membuat saya lebih takjub lagi adalah para masyaikh ini ada yang sebagiannya berprofesi sebagai dokter ataupun ahli bedah, tapi fakih dalam ilmu agama.

Untuk mengajar pun para masyaikh ini harus memperoleh izin dari sang guru. Tapi jika tak diizinkan, maka para masyaikh ini akan terus belajar dan tidak akan mengajar dulu. Hal ini sangatlah dekat dengan etika seumeubeut para teungku di Aceh. Mengajar ataupun membuka drah (seumeubeut) bukanlah untuk mencari nafkah, melainkan karena lillahi Ta’ala dalam menyebarkan ilmu agama.

Lagi pula, untuk membuka drah seumeubeut pun haruslah melalui izin langsung dari sang guru. Jika izin telah diterima, maka drah seumeubeut akan dibuka oleh sang teungku. Jika izin belum diberikan oleh gurunya, maka sang teungku pun akan melanjutkan mengaji di dayah asalnya. Nah, kurang lebih, begitu jugalah sistem pengajian dan pengajaran yang berlaku di Mesir ini. 

0 comments: