Pesona Alexandria (Sehari)

16.10 Hendri Julian 0 Comments


Terminal Kereta Api di Ramsis

Sudah menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa Aceh Mesir melakukan kegiatan liburan sebelum atau sesudah masa ujian berlangsung. Selain dikarenakan jadwal ujian yang serentak di seluruh Mesir, kegiatan ini juga untuk mencari semangat baru bagi mahasiswa. 

Saya dan belasan mahasiswa dari KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh) memutuskan untuk mengunjungi Alexandria kali ini, 3 jam perjalanan dari ibu Kota Kairo. Selain sebagai kota wisata dengan pantai yang indah, kota ini juga dikenal sebagai kota pelajar dan kota sufi. 

Alexandria sendiri merupakan kota yang terletak pada koordinat 31°12′LU 29°15′BT, 208 km di sebelah barat laut Kairo. Selain pemandangannya yang mempesona, kota ini juga menyimpan banyak sekali sejarah dalam peradaban dunia islam dan romawi kuno, baik itu kekuasaan Iskandar Zulkarnain menaklukkan dunia, Kecantikan Ratu Cleopatra menaklukkan imperium romawi ataupun kepemimpinan Sultan al-Asyraf Al-Nasr Syaifuddin Qaitbay mempertahankan laut mediterania.

Dengan mengendarai sebuah mini bus dan didampingi oleh seorang Syaikh dari Aljazair, kami memutuskan berangkat pagi-pagi sekali ke sana, tujuannya agar nantinya kami dapat terhindar dari macetnya Ibu Kota Alexandria.

Sebenarnya ada 2 keinginan utama kami ke Alexandria, mengkhatamkan 167 bait Matan Qasidah Burdah karya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushairi di makam beliau dan juga mengunjungi perpustakan terbesar di dunia, yaitu perpustakaan Alexandria.

Hari pertama tiba di Alexandria, tanpa membuang waktu kami langsung menuju makam Imam al-Bushairi. Ditemani oleh beberapa penjaga makam, mulailah bait-bait burdah kami lantunkan bersama-sama. 

Qasidah burdah sendiri merupakan salah satu karya yang sangat popular dalam khazanah sastra islam. Selain menceritakan kisah maulid nabi, qasidah burdah juga memiliki nilai-nilai spiritual dan semangat perjuangan. Sampai sekarang pun kitab ini masih sering dibaca di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia. Selain berbahassa Arab, kitab ini juga sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa seperti persia, turki, urdu, punjabi, melayu, inggris, perancis, jerman dan juga italia.
 Pengarang kitab ini merupakan seorang yang faqih dalam mazhab syafii. Beliau merupakan keturunan berber yang lahir di Maroko dan dibesarkan di Mesir. Sedang dalam tariqat, beliau merupakan penganut tariqat Syadziliyyah dan satu guru dengan Syaikh Ibnu ‘Aththailah pengarang kitab al-Hikam. yaitu Syaikh Abul Abbas al-Mursy

Setelah selesai membaca burdah dan dengan spirit yang baru, kami melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan Alexandria. Dikarenakan cuaca yang cukup menyengat kulit, tenggorokan kering dan perut yang lapar, kami memutuskan untuk makan siang di taman samping perpustakaan.

Memang sesuai prediksi, bahwa sulit mencari makanan asia di sana, maka dari Kairo kami sengaja membawa bekal sendiri. Bak tamasya di pinggir pantai, kamipun mulai melentangkan lapak di pinggir jalan. Walau hanya berbekal dengan kuah sop dengan ayam sambal lado, makan siang kami saat itu  sangatlah istimewa. Banyak masyarakat mesir yang lalu lalang tersenyum melihat tingkah kami. Tapi kami tidak peduli, karena beginilah masyarakat Aceh, dipinggir jalan pun jadi asal makannya bersama.

Setelah membeli tiket masuk seharga 3 Pound (Rp 5.000), kami pun mulai menjelajah seisi ruangan Perpustakaan ini. Selain penjagaannya seperti bandara maskapai terbang, perpustakaan ini juga memiliki system komputerisasi yang modern, di dalamnya diperkirakan memuat lebih dari 700 ribu naskah bersejarah berjenis papirus – lebih banyak dari perpustakaan sorbone yang hanya memiliki 1700 buku pada abad ke 14.

Perpustakaan Alexandria didirikan pada awal abad ke-3 SM. Namun perpustakaan ini kemudian lenyap dan ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini baru kemudian muncul  pada tahun 1974 masa presiden terguling Husni Mubarak. Sebenarnya perpustakaan sekarang merupakan peringatan dari perpustakaan Alexandria dulu yang hilang. Gedung ini dibangun oleh perusahaan pemenang kompertisi UNESCO yaitu Norwegian Snohetta pada tahun 1988.

Image by Wikipedia

Dimensi dari proyek gedung ini adalah perpustakaan yang memiliki ruang pajang untuk delapan juta buku, dengan ruang baca utama yang meliputi 70.000 m² atas sebelas tingkat cascading. Kompleks ini juga menampung sebuah pusat konferensi; khusus perpustakaan untuk peta, multimedia, buta dan tunanetra orang muda, dan untuk anak-anak, empat museum, galeri seni empat untuk pameran sementara; 15 pameran permanen, planetarium, dan sebuah laboratorium restorasi naskah . Arsitektur perpustakaan adalah sama mencolok. Ruang baca utama berdiri di bawah atap 32-meter-tinggi berpanel kaca, miring ke arah laut seperti sebuah jam matahari, dan mengukur beberapa m 160 diameter. Dinding granit abu-abu Aswan diukir dengan karakter 120 script manusia yang berbeda.(Wikipedia).

Awalnya saya tidak terlalu percaya bahwa perpustakaan ini merupakan yang terlengkap, namun pandangan saya berubah sesaat menemukan berbagai literatur tentang Aceh dalam bahasa belanda. Di antara yang saya temukan adalah Aceh In De Tweede Kameer (1897), Atjeh Oorlog (J.P. Schomaker, 1894), De Atjeh Oorlog (Paul Van’t Veer), Atjeh : De verbeelding van een koloniale oorlog (Liesbelt Dolk, 2001) dan Land en volk van Atjeh : Vroeger en nu (J Jongejans, 1939)

Image by Amazon.com

Hari itu merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi saya dan mahasiswa Aceh lainnya. Walau agak sedikit lelah, suatu saat kami berharap bisa kembali menyapa situs-situs sejarah lainnya yang ada di kota Alexandria. Perjalanan pulang kali ini kami tak lagi mengendarai mini bus, tetapi menggunakan kereta api listrik. Dalam perjalanan pulang saya terus berpikir dan berharap, bahwa suatu saat akan ada cendekiawan Aceh yang buku-bukunya masyhur layaknya kitab Imam al-Bushairi dan juga terpampang di sudut-sudut rak perpustakaan Alexandria. Amin ya Rabb.

0 comments: