Gen 14

11.12 Hendri Julian 0 Comments

Aku, Muhammad Suhil dan Mujtahid
Kita pernah satu TK, satu SD, satu Mts dan satu MA.

Jadi ingat kisah dulu, saat kita masih kecil, saat dunia hanya masih sempit bak kotak korek api.

Kami bertiga adalah teman masa kecil yang sama-sama nekat untuk masuk ke pesantren.

Yang berkaca mata itu namanya Mujtahid, iya sekarang masih menunggu hasil akhir ujian tingkat 4 di Al Azhar mesir. Dari dulu iya anaknya cengeng, super cengeng malah. Saat anak lain sibuk bermain ayunan, dia hanya duduk di depan kelas ditemani botol minuman kecil. Tapi ia merupakan cucu kesayangan kakeknya, maklum cucu laki laki pertama dari trah keluarga uminya. Setiap pagi dan siang dia selalu diantar jemput sang kakek, sangking seringnya dijemput, pernah kami berpikir bahwa kakeknya itu adalah ayahnya.

Yang ditengah itu Muhammad Suhil, dia anak tercerdas di kelas kami, anak dengan keburaman mata minus 9. Pandai melukis karikatur, suka nonton bola, dan sering ikut lomba sains dan matematika. Iya juga sama, masih menunggu kapan jadwal sidang yang tepat untuk mendaftar. Untuk sekarang, dileting kami iya rajanya warung kopi, tidak ada warung kopi di banda aceh ini yang tidak ia singgahi. Bahkan, sehari bisa sampai 4 sampai 5 kali gonta ganti warung kopi, maklum ia sibuk menjajakan pakaian online. Oh ya, jangan pernah mengajak untuk berdebat dengannya, wawasannya luas, bacaannya luas, walau tinggal di banda aceh tapi pikirannya jauh menembus dunia.


Sedang yang sebelah kanan itu aku. Lelaki yang masa kecilnya tidak pernah pandai di bidang apapun di sekolah. Saat SD saja selalu bangun jam setengah 8 lewat 10, padahal lonceng sekolah dibunyikan pukul 7.30 teng. Dulu kelebihanku cuma terpaku pada 3 hal saja, main gambar (seperti judi), nyelam di irigasi dekat rumah dan jemping jemping sepeda johson. Waduh, tidak ada yang bisa dibangkan ayah dan bunda. Hahaha

Itu cerita dulu, cerita tahun 2000-an, tahun di mana masih ada primus main film panji manusia milenium, tahun di mana setiap hari minggu ada film kartun dan wiro sableng. Sekarang sudah 2014, tapi sepertinya tidak ada yang berubah

0 comments: