Keponakan Gundul

11.09 Hendri Julian 3 Comments

Aku dan Cut Alisya

Ini keponakanku yang sekarang sudah pandai bicara centil dan menjulurkan lidah kalau lagi ngambek. Dia punya kulit coklat sama denganku, anaknya super aktif dan sering sok manja kalau lagi sama orang dewasa. Ia diberi nama Cut alisya oleh sang waled, maklum walednya merupakan keturunan ulee balang, jadi adik dan kakaknya juga ditambah cut di awal nama depan mereka.

Anak ini sangat dekat denganku, malah kadang-kadang saat aku pulang ke kampung, aku langsung dicarter untuk menjadi penjagannya saat bunda dan walednya sibuk di luar sana. Aku tak bisa menolak, toh itu anak kakak sepupuku. Bundanya sangat baik padaku. Saat aku kecil pun bundanyalah yang sering menjagaku dan menyuapiku makan.

Pernah suatu ketika, aku pulang kampung untuk melakukan bekam kepala di batuphat. Saat itu kepalaku kucukur habis agar mudah melakukan pengobatan. Ya begitulah, anak muda sering migrain karena keseringan bergadang dan kurang tidur.


Hari itu waled dan bundanya sedang keluar, dan ia dititipkan padaku. Aku sering kali mengganggunya kalau lagi bermain sendiri. Kadang kuambil mainannya, kadang juga kucolek colek dia. Tapi, hari itu ia beda dengan hari biasanya, ia marah dan mulai menangis sekeras kerasnya. Kucoba untuk mendiamkan tapi ia terus menangis, kugendong kesana kemari tapi tetap saja keadaan tak berubah. Kubilang di sana ada kucing, tapi ia tak peduli. Seakan ia benar-benar murka pada kejadian hari itu.

Akhirnya kuputuskan untuk menelpon bundanya. Kuceritakan hal ihwal serta sebab musabab yang terjadi padanya. Ibundanya diam, setelah mendiagnosis beberapa detik, bundanya mengambil kesimpulan bahwasanya buah hatinya itu haus dan belum minum susu. Kemudian kututup telpon dan kubuatkan susu hangat dalam botol kecil yang biasa bundanya gunakan. Sambil kutimang-timang dan kunyanyikan lagu india, iapun diam dan meminum susu yang kuberikan.

Apes, anak muda memang sedang dirundung keapesan hari itu. Kupikir ia tak akan memberontak lagi. Ternyata setelah susu habis ia mulai merengek-rengek dan kembali menangis. Kugendong dan kutimang-timang ia kembali, tapi tetap saja tak ada yang berubah. Habis cara kulakukan saat itu. Aku pusing, aku gundah, cabut saja nyawaku tuhan, biar aku tenang di alam sana. WEK

Tapi tiba-tiba ilham itu datang, ide yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Rancu tapi harus kucoba. Kubaca bismillah, dan kubuka kemeja biruku. Kuelus dadaku sambil berpikir kemana tujuan ini hendak bermuara, apakah mungkin ini harus kulakukan. Oh tidak, aku ini lelaki, tubuh berotot lagi bina"rangka"wan, kenapa harus ide ini yang keluar.

Adegan Fana


Kututup mataku dan dan kuarahkan puting dada coklatku kebibirnya yang mungil. Namun, tiba-tiba hening, tak ada lagi suara tangisan atau isak kecil sang gadis manja ini. Ia pun tertidur pulas dalam pelukan sang anak muda.

Oh tuhan, kenapa ini terjadi. Apa aku tak layak disebut laki-laki lagi. Aku telah ternoda, tolong aku tuhan, tinjukilah aku jalan yang lurus, jalan orang-orang yang engkau beri nikmat kepadanya, bukanlah jalan orang-orang yang engkau murkai.

Saat ia tidur lelap, akupun termenung. Kupikir, jika ia telah membuatku begini, kenapa aku tak balas dendam padanya. Rasa-rasanya untuk saat itu aku ini bagaikan binatang jalang dari kumpulannya terbuang.

Tiba-tiba akupun mulai murka tak terbendung. Kuambil pencukur rambut milik walednya, kubasahi kepalanya dengan sabun. Kucukur rambut tipisnya dengan penuh kehati-hatian, perlahan, sampai habis. Tak tersisa sedikitpun. Aku gembira, dendamku terbalas. Dan akhirnya kamipun sama-sama gundul.

3 komentar:

  1. Ujung-ujung cerita ini bikin ngakak. Sumpah, sep meutuah kah Hendri. Kreib beit...Hahahaa

    BalasHapus
  2. Hahahhaah bek khreb beit bak blog gop

    BalasHapus
  3. Ya Ampuun, segitunyaa, Hahahhahahahha

    BalasHapus