Rumahku

11.03 Hendri Julian 0 Comments

Rumah Kami di Krueng Mane - Aceh Utara
Lagi-lagi kenangan kembali merasuk ke alam jiwa. Ia tak mau berkompromi sedikitpun untuk datang tiba tiba. Padahal, kenangan itu telah lama kubuang jauh. Jauh sebelum aku berhijrah ke kutaraja.

Ini rumah kami. Sudah lebih 10 tahun disewakan. Sulit memang jika untuk menghuninya kembali. Walaupun, ini adalah rumah impian kami. Rumah, saat ayah dan bundaku mendapat gelar master di usia muda. Rumah, dengan desain akademisi interior sejati. Rumah, dengan 8 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang pelatihan rebana dan 1 perpustakaan keluarga, serta di depannya terdapat balee dan kolam ikan gurami.

Dibatasi pematang setapak, rumah kami dihiasi indah aliran irigasi. Jika air sungai sedang pasang di desa pante gurah, air irigasi menjadi asin, dan ikan gabus mengapung kepusingan di pinggiran pepohonan air. Indah sekali. Sangat sangat indah malahan.

Masa kecilku kuhabiskan di sini. Aku pulang sekolah, aku mandi di sini. Aku pulang mengaji, aku juga mandi di sini. Saat liburanpun, selain di sawah aku sering mandi di sini. Tapi dikampungku, mereka tak menyebutnya irigasi, mereka menyebutnya "lueng". Lueng adalah padanan kata yang sama dalam bahasa aceh utara.

Di rumah kami, peraturan belajar sangatlah ketat. Tidak boleh menonton tv sebelum jam 9 malam. Setelah magrib, wajib belajar sampai jam nonton tv tiba. Tapi walau demikian, dalam keluarga, akulah yang paling malas. Saat mulai belajar aku selalu punya alasan, ayah dan bundaku percaya akan alasanku. Kadang aku pura-pura tidur atau pura pura sakit perut. Dan Itu selalu kulakukan berulang-ulang kali, dan mereka tetap percaya akan tingkah anak lelakinya ini.

Ayah adalah orang yang sangat yakin dalam belajar. Masih kuingat betul, saat itu ayah belajar bahasa inggris sedang beliau menggendong dan menyuapi adikku sarapan pagi. Luar biasa ayahku itu. Oh ya, ayah seorang guru bahasa inggris di SMP dulunya. Kemudian bundaku, beliau adalah seorang guru mengaji alquran. Saat masih muda, bunda sering mengikuti MTQ nasional ke berbagai propinsi. Tapi setelah menikah dengan ayah, bunda tak lagi sibuk dalam dunia MTQ. Beliau hanya mengajar alquran dan rebana di sekolah sekolah saja.

Ini kenangan indah bagiku. Kenangan yang kadang ingin kuingat dan kadang juga tidak. Saat memori indah kembali, seperti saat ayah mengajariku sepeda dan menyulam dengan pelepah pinang, ingin rasanya kenangan itu kembali menjelma. Tapi, saat ingatan cinta memisahkan ayah dan bundaku dalam bahtera keluarga 12 thun yang lalu. Aku seakan enggan jika harus mengingat itu semua. Kadang dipaksa pun aku tak mau ingat.

Dulu, iri rasanya melihat mereka yang lengkap setiap lebaran. Sedang kami, foto keluarga lengkap pun tak punya. Itulah sebab, mengapa aku senang menggeluti dunia fotografi sekarang, agar momen kedepan bisa kuabadikan selalu.

Tapi, itu semua telah berlalu. Aku ini anak lelaki pertama. Dan aku telah sarjana, Tahun depan mungkin aku akan sibuk dengan dunia pascasarjana. Dan aku harus menjadi contoh untuk adik dan keponakanku kelak. Agar mereka tahu, broken home adalah yang hal yang tak perlu difrustasikan. Ada hal hal yang memang menjadi rahasia orang tua dan anak tak perlu ikut campur dalam dunia mereka, dan kadang juga sebaliknya. Aneh rasanya, jika orang tua berpisah, anak terperosok ke dunia kelam (sabu-sabu, urak urakan, ganja atau bunuh diri). Kita punya agama, dan agama yang menuntun kita. Jangan takut akan hal itu. Dunia tak selebar daun kelor teman.

Sampai sekarang, aku selalu membagi waktu saat liburan tiba. Jika 3 hari di bireuen, maka 3 hari juga di aceh utara. Dan itu kulakukan belasan tahun sudah. Bagiku mereka tetap menjadi idola dan semangatku. Kadang sering ku tanyakan pada mereka berdua "Ayah, tak adakah rencana melanjutkan ke jenjang doktor ?" begitu juga yang kutanyakan pada bundaku. Tapi, seakan semangat mereka telah sirna belasan tahun yang lalu. Jiwa belajar ayah dan bunda telah pudar. Mereka selalu saja menjawab bahwa, mereka telah tua, sudah malas kalau untuk sekolah lagi. Begini saja sudah cukup.

Sekarang mereka telah memiliki keluarga baru. Dan begitulah kenyataannya, aku senang. Inilah akhir cinta mereka. Kita memang yang merencanakan tapi Allah lah yang memiliki qudrah dan iradahnya.

0 comments: