Anakku di Rantau, Pulanglah!

13.59 Hendri Julian 7 Comments

By Google
Kakinya yang mulai melemah terus saja dipaksa mengayuh sepeda Phoenix pabrikan Cina melewati jalanan kota Lhokseumawe. Keringatnya yang mulai membanjiri dahi di bawah sengatan 36 derajat, seakan tak diperdulikannya lagi. Dalam benaknya hanya satu niat terbesar hari itu, bertemu Tengku Hasan. Sudah enam bulan ia tak mendapat Telepon dari anak lelakinya Rahman. Walau di sekitar rumah, para tetangga memiliki telepon genggam, ia tetap lebih nyaman meminta bantuan kepada Tengku Hasan. Selain kerabat dekat, Tengku Hasan juga memiliki toko penjualan elektronik di Pasar Impres.

Mak Lela sudah terlalu meusyen untuk mendengar suara anak lelakinya itu. Sudah tujuh tahun ia ditinggal anaknya Rahman yang merantau ke Mesir.  Selain tinggal sendiri, Mak Lela sehari-harinya bekerja sebagai penjual pakaian kredit keliling desa. Tahun lalu ia masih tinggal dengan suaminya Tengku Lah. Namun setelah kepergian sang suami yang meninggal karena ditabrak truk pasir, ia akhirnya menjanda.


Sebenarnya Mak Lela memiliki satu anak perempuan yang sudah menikah dan tinggal di Gayo Lues. Sudah berkali-kali anak perempuannya ini mengajak Mak Lela untuk tinggal bersama, namun selalu saja ditolak. Mak Lela beralasan bahwa ia tak tega meninggalkan rumah tuanya yang hampir ambruk itu.

“Tengku Hasan ada?” Dari depan toko Mak Lela bersorak kepada pekerja di depan kasir.

“Saya di atas Cut Kak Lela. Sebentar saya turun.” Seonggok kepala keluar melalui jendela lantai dua.

Karena tidak sabaran, Mak Lela secara sepontan menyandarkan sepedanya di pokok kayu dan langsung naik kelantai dua.
”Apa Rahman menelepon Teungku Hasan?”

“Astghfirullah…” Tengku Hasan terkejut saat sesosok suara muncul tiba-tiba dari lorong tangga.

 “Kenapa Cut Kak buru-buru? Duduklah dulu! Saya ini sudah tua, jantung saya lemah, jika dikejutkan begini saya bisa mati mendadak”.

“Maaf Tengku Hasan”, Mak Lela hanya tersenyum.

“Tidak apa. Semalam Rahman menelepon saya. Katanya hari senin ia akan menghubungi lagi”.

            Sesaat perasaan Mak Lela berubah. Lelahnya kayuhan sepeda yang ia tempuh seakan hilang begitu saja. Tak membekas sedikitpun. Peluh keringat pun mengering. Bahkan, rona wajahnya yang tadi berkerut dan pasi, tiba-tiba merekah mengeluarkan cahaya merona kemerahan.

            Dalam hati Mak Lela, Rahman akan segera pulang. Mungkin tahun ini ia akan diwisuda. Dan Mungkin tahun depan ia sudah bisa mengajar ibu-ibu desa di Meunasah. Namun tidak ada bayangan sedikitpun bagi Mak Lela bagaimana model wisuda di Mesir sana. Karena, saban hari ia sering mendengar para tetangga berpergian ke Banda Aceh, menyewa bus, dan mengikuti megahnya prosesi wisuda putra dan putri mereka yang sebetulnya tak pernah diketahui pasti oleh Mak Lela.

            Bagi Mak Lela, prosesi itu tidaklah penting. Yang sangat penting adalah anak lelakinya Rahman akan segera pulang. Ia tak perlu sendiri lagi di rumah.

***

Matanya belum bisa terpejam. Pikirannya terus saja menerawang kemana-mana. Padahal sudah lima jam ia rebahkan badan di atas kasur. Ditutupnya mata itu, ditariknya nafas dalam-dalam. Matanya kembali terbuka. Dipandanginya langit-langit kamar. Wajah Mak Lela seketika muncul dipikirannya. Suara isakan tiba-tiba muncul. Suara parau yang tak sanggup ia tahan lagi.

Dibangunkannya badan itu. Diambilnya gulungan tikar yang dikasih Maknya dulu saat akan berangkat ke Mesir. Dipeluknya gulungan itu. Kata-kata Mak Lela seakan tiba-tiba bergema di seisi ruangan.

“Bawalah tikar ini. Nanti Rahman bentangkan di depan Ka’bah. Mana tau bisa dipakai oleh musafir yang lewat dan dipakai untuk shalat. Semoga pahalanya bisa mengalir pada Mak dan juga Rahman. Sehingga Allah mudahkan Rahman dalam mengaji.”

Dipeluknya lagi Gulungan tikar dengan semakin kuat. Mulutnya yang dari tadi menahan tangis dibenamkan ke gulungan itu. Air mata berkucur deras. Rahman menangis bukan karena teringat kampung atau kehabisan uang. Namun ia tak tau harus berkata apa nantinya saat menelepon Mak. Dua kesalahan yang menurutnya telah ia lakukan dan baginya masuk dalam kategori durhaka. Pertama, ia tak pernah menjelaskan bahwa tikar itu tak dibentangkan di depan ka’bah. Kerena memang Ka’bah bukan di Mesir, melainkan di Arab Saudi. Kedua, ia sebenarnya tidak akan diwisuda. Karena sudah mafsul dua kali di Al-Azhar, baik itu Al-Azhar Kairo ataupun Al-Azhar Damanhur.

 Rahman tak pernah menceritakan hal ini kepada Maknya. Karena setiap kali ia telepon, selalu saja Mak Lela memberi angan-angan agar nantinya ia akan mengajar di Meunasah menggantikan Tengku Lah suaminya yang notabenenya Alumni Dayah Tradisional Labuhan Haji Aceh Selatan. Walaupun tidak memiliki pesantren, ayah Rahman merupakan Tengku Gampong yang dihormati. Tiap ada acara kematian, selalu saja Tengku Lah yang mengerjakannya.

Namun hendak dikata apa. Nasi sudah jadi bubur, ayam jantan sudah mulai lupa caranya berkokok dipagi hari. Rahman terlalu sering menghabiskan kegiatan di luar majlis ilmu. Jika dikatakan ulama, Rahman adalah ulamanya pengumpul film. Saban hari ia sangat sering mendonwload film di internet.

 Semua film di koleksinya. Kemudian dijual kepada teman-teman Indonesia di Mesir. Kadang juga, ia sibuk menjadi panitia kegiatan ekstrakurikuler. Sibuk yang tidak jelas. Walau tidak menjadi panitia, ia sering saja nimbrung dalam keanggotaan. Rahman lupa, kalau tujuannya ke Mesir adalah untuk menjadi ulama, menjadi penerang umat nantinya. Bukannya menjadi pengusaha, pemain bola atau teknisi Komputer. Dan kalaupun nantinya memiliki profesi ganda, itu sebenarnya nilai plus bagi seorang penuntut ilmu.

Hari-hari Rahman dipenuhi dengan penyesalan. Sudah Al-Quran tidak memiliki sanad dengan satu guru, hingga kitab kuning pun yang tak begitu lancar ia baca. Mungkin kalau dari dulu ia mengikuti Talaqqi di Mesjid Azhar, tak akan seperti ini jadinya.

Namun, walau demikian, ia bertekat untuk berterus terang pada Mak-nya. Biarlah ini tidak berlarut-larut. Terus terang itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
***
Pagi itu Mak Lela tidak berkeliling menjajakan pakaian kreditnya. Ia sudah bersiap-siap untuk menunggu telepon dari anak lelakinya itu. Ia ingin mendengar kabar gembira. Enam bulan tak mendengar suara Rahman seakan begitu menyiksa hati sang Mak.

Diambilnya kaleng roti roma dari dalam lemari. Dibukanya pelan sembari mengucapkan bismillah. Tiga ikat uang seratusan ribu berjejeran rapi di dalamnya. Simpanan Mak Lela yang sejak beberapa tahun terakhir dikumpulkannya dari hasil berjualan pakaian keliling.

Sebelum berangkat ke toko Tengku Hasan. Mak Lela berencana ingin ke Bank dulu untuk mentranfer uang ke rekening Rahman. Uang sebanyak enam juta ini dihasratkannya untuk tiket pulang sang anak.

Diambilnya sepeda tua yang terparkir di depan rumah. Wajah cerianya memancar penuh semangat. Di tangannya, terikat sebuah plastik berisi uang. Digenggamnya erat dengan penuh harapan. Tak diperdulikannya jalan rusak yang ia lewati. Dikayuhnya sepeda tua itu dengan cepat. Namun, saat hendak memotong perempatan jalan, tiba-tiba sebuah truk pengangkut pasir muncul seakan kehilangan arah.

“Darr…” Truk itu pun membentur badan kecil nan tua itu dan membenturkannya masuk kebagian bawah tangki oli. Darahnya bercucuran. Masyarakat berhamburan menuju lokasi kejadian. Tak ketinggalan Tengku Hasan yang tak kebetulan pagi itu baru pulang dari pasar untuk membeli ayam karena Mak Lela akan datang kerumah.

Tengku Hasan terkejut. Ditadahkannya badan Mak Lela. Dengan cepat ditandu dan dinaikkan keatas sepeda motor dengan dibantu oleh seorang warga.

“Rahman… Rahman… Rahman… Pulanglah nak! Mak sudah mengirim uang. Nanti Mak akan mengaji dengan Rahman di Meunasah”, mulutnya terus saja mengucapkan kata-kata itu dengan plastik kantong uang yang masih erat digenggamannya.

***


Karena hari itu sinyal internet tidak terlalu bagus. Rahman dengan cepat menuju Hayyul Asyir ke Meuligoe KMA dengan menyewa Taxi. Sengaja ia tak menaiki bus 80 Coret, takut nantinya terjerat macet Suq Sayyarat karena hari itu adalah hari jum’at.

            Tiga kali ia mencoba menghubungi Tengku Hasan namun sibuk. Dicobanya lagi sampai akhirnya tersambung setelah ditelepon yang ke-12 kali.

“Assalamu’alaikum.”

“Waa’alaikum. Tengku Hasan ya? Ini Rahman anak Mak Lela di Mesir.”

            Tiba-tiba suara tangisan memecah percakapan mereka. Tengku Hasan menangis dengan sejadi-jadinya. Hasan kebingungan dan tak karuan. Ada kejadian apa di sana.

“Makmu Man… Makmu sudah berpulang kerahmatullah barusan. Cut Kak Lela tertabrak truk pasir.”

            Rahman seketika itu ambruk. Kakinya melemah tak sanggup menahan beban tubuhnya. Telepon genggam yang ia pakai pun terjatuh. Matanya menatap kosong kearah jalan. Tak ada tangisan yang bisa diteriakkan. Mulutnya hanya mampu bergetar saja. Dan saat itu Meuligoe KMA pun sepi. Semua penghuni mengadakan rihlah bersama ke semenanjung Sinai.
                                                                   ***

- Meusyen padanan kata dalam bahasa Aceh yang biasa dipakai mengekspresikan kangen, rindu dan ingin bertemu.

- Talaqqi merupakan model pembelajaran gaya klasik dengan guru duduk di depan dan diikelilingi oleh murid. Model pembelajaran ini merupakan model yang dipakai oleh Rasulullah hingga generasi sekarang.

- Mafsul sama dengan DO (Drop Out)

7 komentar: