Pemuda Gagal dan Seekor Semut

16.03 Hendri Julian 0 Comments

By Google
Alkisah di Negeri Mauritania (Afrika), hiduplah seorang pemuda yang sangat rajin namun tidak begitu cerdas. Pada suatu hari ia mengkhatamkan kitab al-Jarumiyyah dengan sang guru, namun naasnya tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya. "Aku harus membaca sekali lagi sampai lembaran terakhir, agar kepalaku dapat mengingat isi kitab ini." Setelah selesai membaca kitab al-Jarumiyyah kali yang kedua, ia tetap saja tak mampu mengingat apa yang telah dipelajarinya tersebut. Kemudian dicobanya kembali dan khatam untuk kali yang kedelapan. Namun tetap saja masih sama. Ia pun mulai pesimis. "Jika kali ini aku tak mampu mengingat isi kitab ini, maka aku tak akan belajar ilmu nahwu lagi seumur hidupku."
Namun, seakan fortuna tak berpihak pada dirinya. Kali yang kesembilan pun serupa dengan yang lain. Tak tahan dengan semua yang terjadi, Ia pun berlari dan duduk di bawah pokok kayu sambil mengangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, lewatlah seekor semut dengan menenteng makanan seukuran tubuhnya menaiki tanjakan seperti gunung. Namun setengah perjalanan, semut tersebut tersungkur dan jatuh teguling-guling kebawah. Tak patah arang. Sang semut pun mengambil bawaannya dan mulai mendaki tanjakan tersebut untuk kali yang kedua. Semut itupun tersungkur kembali. Dicobanya lagi dan jatuh lagi sampai yang kedelapan kali. Sang pemuda tiba-tiba terdiam. Dilihatnya tubuh mungil sang semut itu kembali beranjak pada kali yang kesembilan. Namun tak ada daya, sang semut tersungkur lagi. Tak disangka, semut kecil itu bangun dan mencoba lagi pada kali yang kesepuluh hingga membuat sang pemuda menjadi takjub. Dihapusnya air mata dan diperhatikannya sang semut dengan penuh khitmat. "Jika ia berhasil pada kali yang kesepuluh. Maka aku pun akan kembali membaca kitab al-Jarumiyyah itu sekali lagi. Jika semut saja bisa, mengapa aku tidak?" Ditancapkannya kaki-kaki kecil itu di atas perut bumi dengan penuh tenaga. Tubuh sang semut bergetar, namun ia tetap berusaha untuk mendaki puncak tersebut dengan memapah makanan di atas kepalanya. Semilir angin bertiup sepoi seakan membari semangat kepada sang semut. Sang semut menguatkan azam. Dan akhirnya, ia berhasil menaiki puncak pada kali yang kesepuluh. Di akhir cerita,sang pemuda menemukan keberhasilannya di kesepuluh khataman kitab al-Jarumiyyah. Ia pun menjadi masyhur di dunia dalam ilmu nahwu. Kemampuannya diakui selevel dengan Ibnu Aqil rahimahullah pengarang kitab Alfiyyah. Ia bahkan menulis sebuah kitab yang melengkapi kekurangan nadham-nadham kitab nahwu karya Ibnu Aqil rahimahullah tersebut. Lelaki itu dikenal dengan Ibnu Buna dengan kitabnya yang luar biasa dengan judul Kitab al-Ihmirar li al-'Allamah Ibnu Buna.

0 comments: