Wisata Pikiran untuk Wisata Bireuen

09.43 Hendri Julian 0 Comments


Oleh: Muhammad Arief Ibrahim*


Duta wisata, sebutan yang sangat akrab disebagian kalangan masyarakat, sepasang anak muda yang terpilih menjadi ikon kebudayaan dan pariwisata setelah melewati berbagai macam rangkain acara seleksi, yang menghabiskan biaya tak sedikit, pun standar penilaian yang juga tidak rendah. Duta wisata bukan hanya sekedar ikon saja, namun di era melenial ini, kecantikan saja tidaklah cukup. Anak muda yang terpilih dan mengemban tugas sebagai duta wisata adalah contoh, mempu menginspirasi dan menggugah kesadaran masyarakat untuk kehadiran pariwisata, dan mampu mengangkat potensi wisata suatu daerah. 

Bireuen misalnya, selain pernah menjadi ibu kota Indonesia selama satu minggu. Bireuen, sangat terkenal akan potensi wisata kulinernya, diantaranya adalah mie kocok, yang dapat kita jumpai di Geurugok (Gandapura), Rujak Manis dan Bakso Gatok (Kuta Blang), Sate matang (Peusangan), Bu Sie Itek dan Nagasari (Kota Juang). Para wisatawan yang berkunjung ke Bireuen, sudah seharusnya menjadi bagian dalam perjalannya untuk menikmati wisata kuliner yang ada di Kabupaten Bireuen ini.

Baiklah, mari kita wisata pikiran sejenak. Di sini kita akan membuat suatu masalah mendasar, pertanyaan yang fundamen. Apa yang menjadi ciri khas Bireuen, dan dapat dibawa pulang oleh wisatawan, selain kuliner yang cepat basi jika menempuh perjalanan yang sangat jauh?

Adee kak Nah, ketika mendengar kata-kata tersebut, otak kita langsung memproses data yang tersimpan, bahwa ketika kita sampai di Mereudu ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, belum lengkap bila tak sempat mencicipi Adee Kak Nah. Jika dari bireuen kita menuju ke daratan tinggi gayo, sudah hal yang pasti untuk menikmati langsung racikan kopi di tengah-tengah kebun kopi, adapun untuk cinderamata salah satunya adalah kerawang gayo, selain kopi tentunya. Terdapat  ciri khas dan tersimpan dalam  ingatan kita, lalu muncul ketika menyebutkan atau mendengar nama-nama suatu daerah tersebut.  Wisata pikiran kita belum selesai, dari wisata pikiran inilah, kita harapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kabupaten Bireuen untuk berbenah diri terkait kepariwisataan.

Mari kita kupas sedikit problematika yang terdapat di  wisata kabupaten Bireuen. Sebelumnya, kita sebagai masyarakat Bireuen patut berterimakasih kepada Duta Wisata maupun Stakholder yang sudah memperkenalka wisata kuliner yang ada di Bireuen. Namun, selain wisata kuliner, pun tidak menutup kemungkinan bahwa para pencinta alam dapat menemukan destinasi wisata baru yang masih tersembunyi. Akan tetapi, sebelum kita mencari destinasi yang masih asri, masih banyak destinasi-destinasi yang dulunya sempat diperhatikan kini hampir bisa dikatakan terbengkalai dan dipenuhi oleh hantu-hantu seperti, sampah, pempes, pembalut wanita, puntung rokok dan sampah plastik lainnya.

Destinasi pantai Ujong Blang hingga Pantai Kuala Raja Bireuen, berwisata dengan keindahan pantai yang memanjakan mata, berwisata bersama teman dan keluarga. Namun, sekarang ini berwisata ke sana tidaklah sesuai dengan ekspektasi kita lagi, hantu-hantu kian bertebaran di sepanjang pantai, tak ada lagi lahan untuk bermain sepak bola disepanjang tepian pantai, apalagi duk meuramin untuk makan bersama kelurga sambil menikmati keindahan ciptaan Allah. Siapa yang bertanggung jawab atas kehadiran hantu-hantu tersebut, menyalahkan duta wisata? Tidak!. Secara moral kitalah sebagai masyarakat Bireuen yang harus bertanggung jawab atas semua itu, pun demikian dengan pemerintah, sampah adalah pekerjaan besar bagi pariwisata, jika dengan kehadiran pariwisata dapat merusak primadona Bireuen, maka niscaya bukanlah pariwisata, melainkan Hantu Blau.

Pergantian kedudukan  Duta Wisata Bireuen semakin dekat, kita harapkan dengan adanya pemilihan Duta Wisata ini, maka seharusnya semakin berkembang pula pariwisata yang ada di Kabupaten Bireuen, pun demikian dengan proses pemilihan Duta Wisata kedepan semoga lebih professional dan proporsional. Pemerintah harus ikut andil dalam hal ini, bukan sekedar menjadi symbol bagi perkembangan pariwisata yang ada. Namun dengan mendukung program-program yang ditawarkan oleh Duta Wisata maupun Stakholder lainnya, yang dapat membantu kemajuan pariwisata yang ada, bukan hanya but peuabeh peng saja, melainkan dengan hasil yang nyata.

Terakhir sebelum mengakhiri wisata pikiran kita, saya mengharapkan untuk kemajuan pariwisata Kabupaten Bireuen tidak hanya terlalu fokus terhadap kuliner saja, melainkan juga harus diperhatikan juga terhadap destinasi-destinasi lainnya. Jangan sampai ada destinasi wisata yang terbengkalai, apalagi hantu-hantu itu berkembang biak di seluruh destinasi wisata yang ada. Ini adalah tugas saya, anda, duta wisata, pemerintah, sehingga ini adalah tugas kita bersama sebagai manusia.  Ini bukanlah akhir dari wisata pikiran kita, masih sangat banyak yang harus kita kerjakan untuk kemajuan pariwisata Kabupaten Bireuen. Semoga kita dalam lindungan Allah.

 *Mahasiswa Aceh di Yogyakarta jurusan Pariwisata.


0 comments: